21 April 2018

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Tersihir Rona Jingga Matahari Terbenam di Pasie Janeng Pulau Nasi

05 Feb 2018 IHAN NURDIN

KEINDAHAN panorama dan pesona matahari terbenam, adalah dua hal yang bisa Anda dapatkan sekaligus di Pulau Nasi, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Kedatangan saya dan rombongan ke Pulau Nasi pada Sabtu, 27 Januari 2018 lalu disambut kesiur angin beraroma garam. Ini perjalanan tanpa rencana sebenarnya, tapi di situlah kejutannya.

Setelah berlayar selama satu jam lebih, KM Teluk Pulo yang mengangkut kami dari Ulee Lheue tiba di Pelabuhan Lamteng, Pulau Nasi menjelang asar. Dari kejauhan pelabuhan yang terdiri dari dua dermaga ini mulai terlihat. Satu dermaga untuk merapat kapal-kapal kecil, seperti halnya KM Teluk Pulo yang kami tumpangi. Sedangkan dermaga yang lebih besar dan panjang untuk merapat kapal-kapal besar seperti Kapal Papuyu. Hari itu pelabuhan tampak sepi. Ongkos kapal ini hanya Rp20 ribu perkepala. Kalau Anda membawa sepeda motor, perlu mengeluarkan anggaran yang sama untuk sebuah sepeda motor.

Saya menikmati betul perjalanan hari itu. Cuaca yang bersahabat menjadikan laju kapal bak di jalan tol yang mulus. Tak soal meski kami harus berbagi tempat dengan sepeda motor, puluhan tabung elpiji, jeriken minyak, dan sebuah kotak berisikan mesin cuci. Kegembiraan terpancar dari setiap wajah. Dari sekitar 30-an penumpang yang tersebar di geladak, setengahnya adalah rombongan kami.

Lihat: Pulau Nasi, Sekeping Tanah Molek di Pulo Aceh

Beberapa anak muda dari rombongan yang lain, terdengar bersenandung sambil memainkan senar gitar yang mereka bawa. Di beberapa titik mereka berdiri untuk mengabadikan pemandangan yang luar biasa indah. Saya punya imajinasi sendiri tentang perjalanan itu. Kapal terus bergerak, perlahan daratan ujung Pulau Sumatera telah tertinggal jauh.

Mobil bak terbuka jenis L-300 yang sudah menunggu kedatangan kami entah sejak pukul berapa, dalam sekejap sudah penuh. Kami langsung mengambil tempat dan posisi untuk duduk. Sejenak ingatan saya melambung ke masa kanak-kanak di tahun 90-an, di mana mobil bak terbuka bermerk Chevrolet selalu menjadi andalan masyarakat sebagai alat transportasi umum.

Dalam hitungan menit mobil mulai merayap di jalan beraspal. Ini artinya petualangan seru telah dimulai. Kami akan mengeksplorasi secuil surga di Pulo Aceh. Aldi, selaku koordinator rombongan memberi petunjuk. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi lampusuar di Bukit Kacakacu di Desa Deudap.

Dalam garapan sebuah film dokumenter beberapa tahun lalu, Pulo Aceh dianggap sebagai "Surga yang Terabaikan" karena minimnya perhatian pemerintah kabupaten untuk kecamatan ini. Fakta yang saya lihat di Pulau Nasi sungguh di luar ekspektasi saya. Saya sama sekali tak menduga pulau ini akan sesepi itu. Selama beberapa jam mengeksplorasi pulau, cuma ada satu mobil yang melewati jalanan beraspal yang berkelok-kelok. Yaitu mobil yang mengangkut kami. Hanya ada satu dua kendaraan bermotor yang lewat.

Sepanjang perjalanan, di kiri kanan jalan hanya terlihat satu dua rumah warga. Itu pun seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Selebihnya adalah pegunungan yang ditutupi hutan hijau lebat yang menjadi pemandangan khas pulau.

Pulau Nasi adalah salah satu gugusan pulau yang secara administratif masuk ke wilayah Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Ini pulau kedua terbesar di kecamatan tersebut, setelah Pulau Breueh (beras) yang menjadi ibu kota kecamatan. Penghuni Pulau Nasi lebih sedikit yang tersebar di lima desa yaitu Deudap, Rabo, Alue Rayeung, Pasi Janeng, dan Lamteng. Sementara tetangganya Pulau Breueh memiliki 12 desa. Desa Deudap yang paling sedikit penghuninya, sekitar 80 kepala keluarga.

Dengan kondisi itu, wajar saja kalau desa ini tampak sepi. Nyaris tak ada denyut kehidupan di sini. Awalnya saya kira, saya bisa melihat becak, atau mobil angkutan umum sebagai sarana transportasi publik. Tapi nihil. Pun kedai-kedai yang menjual kopi sekadar tempat bersantai, tak ada. Saya hanya melihat sebuah kedai yang tak jauh dari pelabuhan. Plus kedai di rumah Bu Betty tempat kami menginap.

Dalam perjalanan menuju ke Bukit Kacakacu, kami berhenti sebentar di jalan bukit berkelok sebelum Pantai Nipah. Pemandangan dari bukit ini sungguh indah. Walaupun matahari menjelang sore itu cukup terik, tak menyurutkan antusiasme kami untuk berfoto-foto di lokasi ini. Sebatang pohon menjulang seolah menjadi ikon dari bukit ini. Di kejauhan tampak pulau menyembul di permukaan laut yang biru dan teduh. Permukaan laut terlihat seperti arsiran pensil di kertas gambar. Bergradasi.

Lebih jauh ke arah timur, tampak daratan Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Saya membayangkan, pemandangan malam hari di sini pasti lebih indah. Lampu-lampu di Kota Banda Aceh akan terlihat seperti gugusan bintang di cakrawala.

Kami tak berlama-lama di sini, sebab harus berburu dengan waktu. Matahari telah condong ke barat. Itu artinya kami harus bergegas. Diantar angin-angin dari puncak bukit berkelok ini, kami langsung tancap gas menuju lampusuar di Bukit Kacakacu. Namanya unik ya? Saya terbayang tokoh kartun Pikachu begitu melihat sebuah plang bertuliskan Bukit Kacakacu di pinggir jalan.

Setelah melewati turunan, mobil berbelok ke kiri dan berhenti di dataran yang banyak ditumbuhi pohon pandan duri. Menuju ke lampusuar kami harus treking sedikit ke atas bukit. Tak masalah. Selalu ada kesulitan sebelum kemudahan. Kuperkirakan tak lebih dari sepuluh menit kami berjalan, menyusuri jalan setapak yang mengantarkan kami pada sebuah lampusuar yang menjulang di puncak bukit.

Awalnya saya mengita kami akan mengunjungi mercusuar Willem Toren, rupanya mercusuar yang itu ada di Pulau Breueh hehehhe. Tapi, walaupun mercusuar ini bodinya lebih kecil dan tidak bisa dinaiki, tidak mengurangi kesenangan kami setelah menapakkan kaki di bukit ini. Pemandangan yang tersaji di depan mata sungguh menawan. Berdasarkan informasi yang ada di monumen kecil di dekat pertapakan, mercusuar ini dibangun pada tahun 1990.

Gugusan karang membentang vertikal menjorok ke laut. Saya terpana melihatnya. Indah niah ciptaan Tuhan di depan mata saya ini. It's amazing! Wonderful! Luarbiasa! Saya turun untuk menjangkau gugusan karang tersebut. Dan oh, dari jarak dekat karang-karang ini tampak seperti lapisan situs purba yang sangat artistik. Gempuran air laut terus menerus yang mengandung garam telah mengubah tekstur permukaan karang yang tajam menjadi licin dan kesat. Memudahkan saya untuk menyusuri dari satu gunduk ke gundukan yang lain.

Matahari Terbenam di Pasi Janeng

 

Kami tidak berlama-lama di lampusuar, sebab masih ada satu tujuan lagi yaitu melihat ritual matahari terbenam di pantai Lhok Mata Ie di Gampong Pasi Janeng. Jika Anda ingin melihat bagaimana waktu menggiring bola api raksasa hingga tenggelam dikulum lautan, di sinilah tempatnya.

Saat semesta bersalin rupa, rona jingga berserak-serak di cakrawala. Perlahan matahari menyerupai bola raksasa yang menggelinding ke dasar lautan.

Pasirnya begitu lembut, saat saya menggenggamnya, saya terbayang pada serutan es krim di dalam mangkuk. Ia akan lumer, jatuh perlahan-lahan dari sela-sela jemari. Kemudian jilatan ombak kembali membuatnya rata dengan permukaan pantai. Seperti ubin dengan serat-serat halus.

Inilah tempat paling strategis untuk melihat Pulau Breueh, pulau terbesar di wilayah Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar sekaligus menjadi ibu kota kecamatan. Pantai ini ibarat periuk tempat kita menanak beragam imajinasi menjadi sesuatu yang kita sebut sebagai karya. Entah itu dalam bentuk fotografi, narasi, atau ilustrasi.

Sore itu, seolah-olah saya melihat senja paling indah yang pernah saya saksikan. Tapi suara Aldi menyadarkan kami. Kami harus segera bergegas. Sebentar lagi gelap akan mengambil alih semesta. Kami harus meninggalkan pantai Lhok Mata Ie di Pasie Janeng. Kami harus pulang ke Desa Deudap. Sebab di sana, hidangan rendang gurita khas Pulo sudah menunggu.[]