24 April 2018

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Mengintip Keadaan Rasulullah Saat Wahyu Turun

10 Jul 2016 PORTALSATU

SETELAH berulang kali mengalami mimpi menjadi nyata, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam mulai menyendiri di Gua Hira. Hingga beberapa waktu berlalu tibalah bulan Ramadan. Beliau menemui sesuatu yang mengubah kehidupannya. Beliau berjumpa dengan Jibril.

Jibril masuk ke Gua Hira lalu memerintahkan Rasulullah untuk membaca. Hingga turunlah surat al-Alaq 1-5. Beliau melihat mimpinya menjadi nyata.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa Jibril mendekap Nabi Muhammad dan membuat beliau kepayahan? Mengapa beliau merasakan ketakutan?

Di antara faidahnya adalah Rasulullah begitu sadar bahwa keanehan yang beliau alami adalah sesuatu yang hakiki. Beliau merasakan sakit yang bisa dirasakan inderanya. Sehingga tak ada rasa ragu atau menerka itu adalah khayalan atau menduga-duga. Kemudian hal ini juga menjadi pelajaran kepada beliau bahwa tahapan-tahapan wahyu berikutnya akan turun dalam keadaan berat seperti ini. sebagaimana firman Allah Ta'ala,

"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat." (QS Al-Muzzammil: 5).

Kata berat dalam ayat ini bukan hanya mengandung pengertian secara maknawi. Atau hanya berarti makna yang mendalam dan penuh hikmah. Berat tersebut adalah dalam arti sebenarnya. Yang dirasakan oleh panca indera.

Hal ini dipertegas lagi oleh pengalaman sahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu. Ia mengatakan, "Sesungguhnya Rasulullah sedang mendapat wahyu:

"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah" (QS An-Nisaa: 95).

Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum yang menyebutkan ayat itu padaku. Ia berkata, Wahai Rasulullah, seandainya aku bisa berjihad, pasti aku akan berjihad. Ia adalah seorang laki-laki buta. Kemudian Allah Tabaraka wa Taala menambahkan ayat kepada Rasul-Nya. Saat itu paha beliau berada di atas pahaku. Aku merasa begitu keberatan. Sampai-sampai aku khawatir pahaku remuk. Setelah itu dilanjutkan kepada beliau, Allah menurunkan:

"yang tidak mempunyai uzur" (QS An-Nisaa: 95). (HR al-Bukhary, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, 2677, at-Turmudzi 3033, dan an-Nasa-I 4308).

Hadits ini menjelaskan kepada kita perkataan berat yang dimaksud dalam surat al-Muzammil mencakup berat dalam arti hakiki. Bukan hanya secara maknawi. Sebagaimana yang dirasakan oleh Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu. Demikian juga Aisyah radhiallahu anha meriwayatkan,

"Apabila Rasulullah menerima wahyu saat berada di atas tunggangannya (untanya), maka bagian perut unta itu akan menempel ke tanah." (HR Ahmad 24912).

Artinya unta itu tak sanggup menahan beban Rasulullah yang sedang menerima wahyu. Sehingga ia terduduk sampai perutnya menempel ke tanah.

Dahsyat dan beratnya peristiwa menerima wahyu ini berbeda-beda. Wahyu yang satu bisa lebih berat dari wahyu lainnya. Al-Harits bin Hisyam radhiallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepadamu?" Rasulullah menjawab,

"Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng. Inilah yang terberat bagiku. Dia memberitakan sesuatu dan aku memahami apa yang ia ucapkan. Dan terkadang malaikat datang dalam wujud seorang laki-laki, lalu dia berbicara padaku dan aku paham apa yang diucapkannya." (HR. al-Bukhari 3043 dan Muslim 2333).

Jadi, tingkat kesulitan penerimaan wahyu itu berbeda-beda. Dan yang paling berat adalah seperti gemerincing lonceng. Aisyah radhiallahu anha paham betul tentang beratnya wahyu itu. Ia menuturkan bagaimana keadaan Rasulullah saat turun wahyu di musim dingin.

"Sungguh aku melihat wahyu turun kepada beliau di hari yang sangat dingin namun beliau tidak merasa kedinginan. Bahkan dari dahi beliau mengeluarkan keringat." (HR. al-Bukhari 2, at-Turmudzi 3634, an-Nasai- 1006, dan Ahmad 26241).

Di ruang ber-AC dengan suhu 20 derajat saja, kita sudah tidak berkeringat. Sedangkan dinginnya Kota Madinah bisa mencapai 10 derajat Celcius bahkan lebih rendah lagi. Dalam kodisi seperti itu, Rasulullah berkeringat. Terbayang, betapa berat keadaan yang dialami Rasul saat menerima wahyu.

Membaca hadits-hadits Rasul, kita bisa menangkap hikmah mengapa wahyu turun dalam keadaan yang begitu berat. Dan Allah lebih mengetahui hikmahnya. Rasulullah mendapat ujian dari segala sisi: keluarga yang wafat meninggalkannya, hartanya, negeri asalnya, sahabat-sahabatnya, sampai rasa sakit yang berliau derita.

"Sungguh aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian (dua kali lipat)." (HR. al-Bukhari 5324 dan Muslim 2571).

Dan juga sabda beliau,

"Orang yang paling besar musibahnya adalah para nabi, kemudian yang (keshalehannya) mirip (dengan mereka), kemudian yang mirip dengan mereka." (HR. an-Nasa-i 7482 dll.)

Rasulullah adalah sebaik-baik manusia, rasul yang paling utama. Beliau mendapatkan cobaan hingga saat menerima wahyu. Dengan rasa berat tersebut Rasulullah bersabar. Beliau lebih melihat hikmah wahyu tersebut yang merupakan petunjuk yang bermanfaat bagi umatnya. Sampai-sampai beliau rindu dengan perjumpaan Jibril dan mendengar kalam Ilahi itu. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, Rasulullah bertanya kepada Jibril:

"Mengapa engkau tidak sering lagi mengunjungiku sebagaimana biasanya?" Lalu turunlah ayat: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nyalah segala yang ada di hadapan kita, dan segala yang ada di belakang kita. (QS Maryam: 64)." (HR. al-Bukhari 4454 dan selainnya).

Dengan mengetahui bagaimana keadaan Rasulullah saat menerima wahyu, mudah-mudahan kita semakin mengagungkan Alquran. Dan terbayang setiap kita membaca ayat Alquran bagaimana Rasulullah berjuang keras dan bersabar menahan beratnya menerima wahyu Ilahi untuk disampaikan kepada kita, untuk kita baca dan tadabburi.[]Sumber:Nurfitri Hadi/kisahmuslim/inilah.com