19 November 2017

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Lamaknya Gulai Taleh 'Maluncue' Khas Aceh Selatan Ini

13 Nov 2017 IHAN NURDIN

KULINER menjadi salah satu daya pikat bagi wisatawan atau turis ketika mengunjungi suatu daerah. Rasanya kurang lengkap jika main-main ke daerah tertentu tetapi tidak sempat mencicipi menu khasnya. Di Kabupaten Aceh Selatan yang dijuluki sebagai Negeri Pala, ada salah satu kuliner yang sangat khas. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama gulai taleh.

Taleh artinya talas, jadi gulai taleh adalah gulai batang talas atau keladi. Dalam bahasa Aceh disebut juga bak leubue atau bak eumpeuk. Keladi ini jenisnya banyak, ada keladi putih, keladi hijau, dan keladi hitam atau leubue adang.

Yelli Sustarina, warga Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan mengatakan, gulai taleh ini terbilang istimewa. Biasanya sering dihidangkan sebagai sayur pelengkap di acara-acara kenduri, sebagai pengganti gulai nangka atau cubadak.

"Bisa salah satunya, kalau enggak ada nangka bisa pakai gulai taleh ini, atau sebaliknya," ujar Yelli kepada portalsatu.com Senin, 13 November 2017.

Tanaman talas ini juga tumbuhnya sangat mudah dan menyukai struktur tanah yang lembab, seperti di parit-parit. Banyak tumbuh di sekitar pemukiman warga, sehingga tidak perlu dibeli seperti di kota-kota besar seperti Banda Aceh. Karena keistimewaan ini pula, sehari sebelumnya Yelli menjamu makan siang sejumlah teman-temannya yang datang dari Banda Aceh dengan sayur taleh ini.

Bumbu-bumbu yang digunakan untuk meracik gulai ini sama seperti bumbu untuk meracik gulai santan atau gulai lemak pada umumnya. Yaitu cabai rawit, cabai merah, kemiri, bawang merah, bawang putih, dan kunyit. Untuk menguatkan aroma ditambah serai, daun salam, dan daun kunyit. Dan tentunya santan kelapa.

Cara memasaknya pun sangat mudah. Batang dan buah talas yang sudah dibersihkan dicuci bersih, kemudian dicampur dengan asam sayur yang dihancurkan, dilumuri bumbu, baru dijerang di atas api hingga teksturnya lunak. Bagi yang tidak suka terlalu hancur, bisa disesuaikan tingkat kematangannya.

"Gulai taleh biasa disebut juga dengan gulai maluncue karena teksturnya yang lunak dan licin, jadi orang Tapaktuan sering menyebutnya dengan gulai maluncue karena waktu dimakan langsung maluncue ka pauik (perut)," ujar Yelli.

Gulai ini enak disantap begitu saja ataupun dengan nasi. Ditambah dengan lauk ikan asin, ahh... lamak bana.[]