19 November 2017

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Keumamah; Olahan Ikan yang Menjadi Bekal Orang Aceh saat Perang dan Berhaji

25 Nov 2015 PORTALSATU

BANDA ACEH - Keumamah atau ikan kayu merupakan salah satu olahan ikan kering khas Tanah Rencong. Kuliner ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu. Di balik teksturnya yang keras dan liat, keumamah menyimpan secuil cerita yang menarik untuk disimak.

Salah seorang penjual keumamah, Fauziah, menceritakan jika olahan ikan ini dulunya merupakan bekal yang kerap dibawa para pejuang Aceh ketika berperang.

Keumamah terbuat dari tongkol yang direbus dan dijemur kering setelah dibalur dengan tepung kanji atau tepung tapioka. Setelah dijemur tekstur daging ikannya menjadi sangat keras membuat keumamah juga dikenal sebagai ikan kayu. Dengan kondisi tersebut memungkinkan keumamah bisa disimpan hingga berbulan-bulan. Tak heran jika para pejuang Aceh dulu menyimpan keumamah sebagai bekal selama perang.

Seiring dengan berkembangnya zaman, keumamah yang terbuat dari ikan tongkol tersebut diolah menjadi makanan yang praktis dan mudah di bawa ke mana saja. Tak terkecuali sebagai bekal para calon jamaah haji yang berangkat ke tanah suci. Cita rasa keumamah pun kini bisa dinikmati oleh masyarakat luar sebagai oleh-oleh khas Aceh.

"Pemerintah membelinya dari kami dan diberikan kepada para jamaah haji. Saat para turis dari Madinah ke Aceh, mereka juga mengunjungi galeri kami untuk membeli ikan keumamah," kata Fauziah kepada portalsatu.com saat ditemui di galerinya, Selasa, 24 November 2015.

Salah satu peminat keumamah, Fani, mengatakan meski keumamah belum dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia, setidaknya banyak turis dari negara luar yang juga meminati olahan ikan tersebut.

"Meskipun enggak seperti obat-obat yang terkenal hingga ke penjuru dunia, setidaknya makanan khas Aceh nyoe na lah dirasa lee ureung luwa," katanya.

Karena teksturnya yang keras, sebelum dimasak daging keumamah harus dirajang kecil-kecil dan direndam dengan air untuk membuatnya lunak. Olahan ikan ini sering ditemukan di hidangan pesta perkawinan di daerah Banda Aceh dan Aceh Besar.[]

Laporan Fira Zakya