16 December 2017

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Kencan Kilat, Geliat Baru Perburuan Cinta Kaum Urban

16 Feb 2016 portalsatu.com

Jakarta -- Lonceng berdenting. Pembicaraan terhenti. Tawa menyisa. Para perempuan tetap pada tempatnya. Sementara lelaki di hadapan mereka berpindah, bergeser ke samping kanan. Di hadapan si perempuan kini duduk laki-laki lain, sosok yang juga baru dikenal.

Percakapan dan tawa baru tercipta. Lima menit berikutnya, terasa hanya ada mereka berdua. Sampai keseruan dan saling pandang kembali terpisah oleh lonceng yang berdenting. Semua kembali terhenti, berpindah ke kanan, dan mendapat pasangan baru.

Demikian speed dating alias kencan kilat yang digelar Qraved bersama Setipe tepat saat Hari Kasih Sayang, akhir pekan lalu. Sekitar 70 sampai 80 orang menjadi peserta. Tentu separuh laki-laki dan separuh lagi perempuan. Mereka dipisah menjadi tiga kelompok berdasarkan agama yang dianut.

Tak sekadar memberi peluang kencan, acara yang dihadiri kebanyakan peserta dari Jabodetabek itu memang ingin membuka "gerbang" bagi para lajang yang serius mencari pasangan untuk masa depan. Hadiah ke Bali yang menjadi iming-iming di akhir acara, hanya sekadar bonus jika memang cocok.

Selain itu, kepada CNNIndonesia.com kebanyakan peserta menyampaikan mereka juga ingin mencoba sesuatu yang baru. "Baru tahu kalau di Indonesia ada seperti ini," kata salah satu dari mereka. Rata-rata usia peserta 25 tahun hingga 30-an. Sambil menyelam minum air, coba hal baru sekaligus mencari jodoh.

"Ya siapa tahu ada yang nyantol kan?"

Antusiasme para lajang di Jakarta terhadap acara serupa, terbilang cukup tinggi. Menurut data Qraved, sekitar dua hingga tiga jam setelah acara itu diumumkan, 400 hingga 500 orang langsung mendaftar, meski tidak semuanya membayar. Qraved dan Setipe kemudian menyortir para pendaftar.

Ratusan antusiasme itu membuktikan, masyarakat perkotaan yang lajang tidak lagi malu mengakui statusnya, dan lebih aktif mencari pasangan. Data itu tidak jauh berbeda dengan apa yang didapatkan Razi Thalib, penggagas sekaligus CEO Setipe. Karena itulah ia mendirikan situs kencan online itu.

"Bisnis ini pasarnya besar. Apalagi sekarang tekanan sosial semakin besar," katanya usai acara kencan kilat. Sejak didirikan pada akhir 2013 sampai saat ini, anggota Setipe sudah mencapai setengah juta orang. "Empat puluh lima persen Jabodetabek," ujarnya. Sebulan berdiri saja, anggotanya sudah 30 ribu orang.

Menurut Razi, kencan online menjadi media baru di masyarakat Indonesia untuk mencari pasangan. Apalagi sekarang masyarakat perkotaan selalu disibukkan pekerjaan, tak sempat masuk dalam lingkungan baru. Padahal karakter masyarakat Indonesia berbeda jika bertemu di area publik.

"Kalau di luar, ketemu orang yang menarik di bar bisa langsung diajak ngobrol. Tapi karakter perempuan Indonesia tidak begitu, karakter laki-laki di Indonesia juga tidak begitu. Mereka malu, dan takut penolakan," ujar Razi, menerangkan analisisnya.

Setipe, yang berkonsep sama seperti situs kencan di negara lain layaknya Match, eHarmony, dan Cherry Blossoms, pun mencoba mewadahi itu. Mereka mencocokkan pasangan melalui algoritma komputer yang awalnya didasarkan pada teori psikologi. Kini, Setipe sudah semakin mengembangkan teorinya itu.

"Setidaknya ada lima alat untuk mencocokkan, berdasarkan demografisnya, preferensinya, psikologisnya, kecocokannya, dan sosial ekonominya," kata Razi menyebutkan. Hingga kini, ia sudah punya sekitar 76 peserta yang sukses bahkan sampai pernikahan. Tak jarang ia ikut diundang.

Meledaknya Setipe seperti berbarengan dengan tren penggunaan aplikasi kencan online lain di Indonesia, seperti Tinder, OKCupid, dan lainnya. Menurut Pingkan Rumondor, psikolog relationship untuk Setipe, itu bukan disebabkan tekanan sosial.

"Sebenarnya sudah ada sejak 2005-an. Tapi baru 2010 booming, itu karena kecanggihan teknologi. Sekarang ada ponsel pintar, bisa lewat aplikasi. Tapi di sisi lain itu membuat banyak pilihan," ujarnya.[] Sumber: cnnindonesia.com