20 May 2018

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Keelokan Pulau Selayar Tak Hanya untuk Dilayari

04 Dec 2015 MERDEKA

Ada banyak pulau kecil di Indonesia yang memiliki potensi alam sangat luar biasa. Bersih dan belum terkontaminasi dan berharap akan terus seperti ini. Hamparan pasir putih dan air pantai yang tenang semakin segar dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi. Salah satu destinasi yang akan memanjakan dan memberikan ketenteraman jiwa adalah Pulau Selayar yang terletak di ujung Provinsi Sulawesi Selatan.

Pulau Selayar memiliki panjang 80 kilometer dan merupakan pintu gerbang menuju ke Taman Nasional Taka Bonerate. Di bawah lautnya tersimpan warna-warni terumbu karang, spons raksasa, hingga beraneka ragam jenis spesies seperti duyung, tuna, penyu dan pari manta. Selayar terdiri dari 21 pulau dan atol (pulau karang). Taka Bonerate merupakan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kepulauan Marshall dan Maladewa.

Pulau Selayar Terkenal Sejak Jawa Kuno
Pulau Selayar sebenarnya sudah terkenal sejak berabad-abad lamanya. Manuskrip Jawa kuno, yaitu Nagara Kertagama menyebutkan pada abad ke-14 terdapat sebuah kerajaan yang berkuasa di Selayar. Kerajaan pra-Islam tersebut tampaknya telah menjadi pusat perdagangan dan dikunjungi pedagang dari Cina, Filipina dan Thailand. Bukti keberadaan kerajaan di Pulau Selayar tersebut diperkuat bukti-bukti yang ditemukan berbagai artefak di sekitar pulau.

Salah satu penemuan yang paling penting adalah Gendang Dongson yang merupakan gendang terbesar di dunia dan menurut penelitian sudah berusia sekira 2.000 tahun. Gendang ini kemungkinan berasal dari zaman perunggu. Artefak yang ditemukan lainnya adalah porselen Cina dan porselen Sawankholok (Thailand). Menurut penelitian, kemungkinan pengaruh Islam mulai masuk Selayar pada abad ke-16 yang dibawa oleh pengikut Sultan Ternate dari Maluku Utara.

Yang Menarik di Pulau Selayar
Gendang Dongson merupakan daya tarik utama di pulau ini. Digali pada abad ke-17, Gendang Dongson yang ada di pulau ini merupakan yang terbesar sekaligus terindah dari Zaman Perunggu. Artefak ini diperkirakan sudah berusia sekitar 2.000 tahun. Pertama kali ditemukan di Papalahoia, yaitu daerah kekuasaan kerajaan pra-sejarah dari abad ke-14. Gendang tersebut sekarang disimpan di Museum Tunggal di Bontobangun, lokasinya sekitar 3 kilometer selatan Benteng.

Selain Gendang Dongson, Museum Tunggal juga menyimpan sisa-sisa kapal kuno. Ada kepala naga setinggi 110 cm, memiliki sayap, kepala dan ekor sepanjang 150 cm yang didesain dalam gaya Majapahit. Ada juga anjungan yang merupakan tempat yang biasa digunakan kapten kapal untuk memberi perintah kepada awaknya. Adapula sebuah prasasti Arab dari abad ke-16 yang bertuliskan Sultan Abd al-Malik, Tuban. Nama tersebut diyakini merujuk ke Kota Tuban, sebuah pelabuhan utama di Jawa Timur pada masa Kerajaan Majapahit.

Lezatnya Nasi Santan dan Ikan Bakar Baronang
Puas menikmati pesona budaya dan keindahan alam bawah laut Pulau Selayar, perut tentu sudah tak tahan dengan rasa lapar. Seperti pepatah Tak Lengkap Berwisata Sebelum Mencicipi Kulinernya, plesir Selayar juga kurang sempurna sebelum menyantap kulinernya. Selayar terkenal dengan Nasi Santan dan ikan Baronang yang diolah dengan bumbu sedikit pedas. Rempah yang kuat akan membuat gigitan pertama berubah menjadi rasa ketagihan. Hidangan ini dapat diperoleh di Pasar lama Benteng Jalan Aroeppala, RA Kartini, dan Jalan Syarif Al Qadri.

Hal yang perlu diingat, pelayaran ke Selayar tidak akan dilakukan bila laut dalam keadaan pasang. Jika berniat melakukan penyeberangan dari Makassar, bisa naik bus AC yang berangkat pukul 9 pagi dan tiba di Benteng sekitar pukul 07.30 malam. Alternatif lainnya, wisatawan bisa terbang menggunakan pesawat berbadan kecil, yaitu SMAC dari Makassar yang dapat ditempuh selama 40 menit. Tak begitu sulit untuk mencicipi salah satu #pesonaindonesia ini. Jika berencana liburan, keindahan alam Pulau Selayar layak untuk dipertimbangkan sebagai jujukan. Cari tahu juga keindahan Pesona Indonesia lainnya di http://www.indonesia.travel/. sumber : merdeka