16 December 2017

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Imam Al-Ghazali (X): Konsep Pendidikan Islam

14 Oct 2017 Helmi Abu Bakar El-Langkawi

IMAM Al-Ghazali sebagai seorang ulama besar dan sangat banyak karya beliau yang menguraikan tentang pendidikan dan akhlak. Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan. Seseorang baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan, jika ia memahami secara benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan tujuan pendidikan ini selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya yang berkaitan denagan pendidikan.

Dari hasil studi terhadap pemikiran Al-Ghazali dapat diketahui dengan jelas, bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan ada dua:

Pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.

Kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu ia bercita-cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran-sasaran yang merupakan tujuan akhir dan maksud tujuan pendidikan itu. Tujuan ini tampak bernuansa religius dan moral, tanpa mengabaikan masalah duniawi.

Pendidikan Islam itu secara umum mempunyai corak yang spesifik, yaitu adanya cap (stempel) agama dan etika yang kelihatan nyata pada sasaran-sasaran dan sarananya, dengan tidak mengabaikan masalah-masalah keduniaan. Dan pendapat Al-Ghazali tentang pendidikan pada umumnya sejalan dengan trend-trend agama dan etika.

Al-Ghazali juga tidak melupakan masalah-masalah duniawi, karenanya ia beri ruang dalam system pendidikannya bagi perkembangan duniawi. Tetapi dalam pandangannya, mempersiapkan diri untuk maslah-masalah dunia itu hanya dimaksudkan sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di alam akhirat yang lebih utama dan kekal. Dunia adalah alat perkebunan untuk kehidupan akhirat, sebagai alat yang akan mengantarkan seseorang menemui Tuhannya. Ini tentunya bagi yang memandangnya sebagai tempat untuk selamanya.(Abuddin Nata :2000:86)

Akan tetapi pendapat Al-Ghazali tersebut, di samping bercorak agamis yang merupakan ciri spesifik pendidikan Islam, tampak pula cenderung pada sisi kerohanian. Dan kecendrungan tersebut menurut keadaan yang sebenarnya, sejalan denagan filsafat Al-Ghazali yang bercorak Tasawuf. Maka sasaran pendidikan, menurut Al-Ghazali, adalah kesempurnaan insani di dunia dan akhirat. Dan manusia akan samapai keada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Keutamaan itulah yang akan membuat dia bahagia di dunia dan mendekatkan dia kepada Allah SWT, sehingga ia menjadi bahagia di akhirat kelak.(Abuddin Nata :2000:87)

Sungguhpun Al-Ghazali dikenal sebagai seorang yang terkendali oleh jiwa agamis dan sufi yang mana keduanya telah mempengaruhi pandangannya tentang hidup, tentang nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan dan kedua-keduanya juga telah membuat dia mencari jalan untuk mendekatkan diri pada Allah dan mencari kebahagiaan di akhirat namun dia tidak lupa bahwa ilmu itu sendiri perlu dituntut, mengingat keutamaan dan keindahan yang dimilikinya. Ia melihat bahwa ilmu itu sendiri adalah keutamaan dan ia melebihi segala-galanya.

Oleh karena itu, menguasai ilmu bagi dia, termasuk tujuan pendidikan, mengingat nilai yang dikandungnya serta kelezatan dan kenikmatan yang diperoleh manusia padanya. Ia kemukakan: apabila anda melihat kepada ilmu maka tampak oleh anda bahwa imu itu sendiri adalah lezat dan oleh karena itu pula maka ilmu itu sendiri selalu dicari. Anda juga akan mengetahui bahwa ia merupakan jalan yang mengantarkan anda kepada kebahagiaan dinegeri akhirat, sebagai medium untuk taqarrub kepada Allah, di mana tak satupun sampai kepadanya tanpa ilmu, tingkat mulia bagi seorang manusia adalah kebahagiaan yang abadi; di antara wujud yang paling utama adalah wujud yang menjadi perantara kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu tak mungkin dicapai kecuali dengan ilmu dan amal, dan amal tak mungkin dicapai kecuali jika ilmu tentang cara beramal dikuasai.

Dengan demikian, maka modal kebahagiaan di dunia dan akhirat itu, tak lain adalah ilmu. Kalau demikian, maka ilmu adalah amal yang terutama.(Abuddin Nata :2000:88). Selain itu rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud al-Ghazali terhadap dunia, merasa qana’ah (merasa cukup dengan yang ada), dan banayak memikirkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.

Sikap yang demikian itu diperlihatkannya pula ketika rekan ayahnya mengirim al-Ghazali beserta saudaranya, Ahmad, ke Madrasah Islamiyah yang menyediakan berbagai sarana, makanan dan minuman serta fasilitas belajar lainnya. Berkenaan dengan hal ini al-Ghazali berkata, ”Aku datang ke tempat ini untuk mencari keridhaan Allah, bukan untuk mencari harta dan kenikmatan.”

Rumusan tujuan pendidikan al-Ghazali yang demikian itu juga karena al-Ghazali memandang dunia ini bukan merupakan hal yang pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatan setiap saat. Dunia hanya tempat lewat sementara, tidak kekal. Sedangkan akhirat adalah desa yang kekal, dan maut senantiasa mengintai setiap saat.

Lebih lanjut al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga orang tersebut derajatnya lebih tinggi di sisi Allah dan lebih luas kebahagiaannya di akhirat. Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan menurut al-Ghazali tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan dunia hanya sebagai alat. (Abuddin Nata :2005:213).[]