19 November 2017

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Imam Al-Ghazali (III): Perjalanan Menemukan Kehidupan Sejati

04 Oct 2017 Helmi Abu Bakar El-Langkawi

Di samping itu, al-Ghazali  juga belajar tasawuf kepada dua orang sufi, yaitu ImamYusuf al-Nasaj dan Imam Abu ‘Ali al-Fadl bin Muhammad bin ‘Ali al-Farmazi at-Thusi. Ia juga belajar hadist kepada banyak ulama hadist, seperti Abu Sahal Muhammad bin Ahmad al-Hafsi al-Marwaziy, Abu al-Fath Nasr bin ‘Ali bin Ahmad al-Hakimi at-Thusi, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad al-Khuwariy, Muhammad bin Yahya bin Muhammad as-Sujja’i al-Zauzani, al-Hafiz Abu al-Fityan ‘Umar bin Abi al-Hasan ar-Ru’asi al-Dahistaniy, dan Nasr bin Ibrahim al-Maqdisi.

Setelah al-Juwaini meninggal dunia, al-Ghazali  mengunjungi tempat kediaman seorang wazir (menteri) pada masa pemerintah Sultan ‘Adud ad-Daulah Alp Arselan (455 H/1063M-465 H/1072 M) dan Jalal ad-Daulah Malik Syah (465 H/1072 M-485 H/1092 M) dari Dinasti Salajiqah di al-‘Askar.

Syekh Khudri Beik menyebutkan bahwa pemerintahan dinasti Saljuk terbagi menjadi 5 bagian, yaitu: 1) Saljuk Raya/Besar yang menguasai Khurasan, Ray, Jabal, Irak, Persia, dan Ahwas; 2) Saljuk Kirman; 3) Saljuk Irak dan Kurdistan; 4) Saljuk Syria; 5) Saljuk Rum (Asia kecil). 

Malik Syah sendiri termasuk sultan dari Saljuk Raya. Para sejarawan juga menyebutkan bahwa keterkaitan antara Dinasti Saljuk dengan Dinasti ‘Abbasiyah lebih disebabkan karena kesamaan ideologi, yang mana keduanya sama-sama menganut faham sunni. Lihat Muh{ammad Khudri Beik, Muh}ad}}arah Tarikh al-Umam al-Islamiyyah, (Mesir.: Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, 1970), II: 44. Lihat juga Syalabi, Op.Cit, hal. 430. Saljuk itu sebuah kota di Persia.)

Wazir tersebut bernama Nizam al-Mulk. Nama aslinya adalah Abu ‘Ali al-Hasan bin ‘Ali bin Ishaq bin al-‘Abbas. Julukannya adalah Nizam al-Mulk Qawam ad-Din at-Tusi. Namun ia lebih dikenal di kalangan umat Islam dengan nama Nizam al-Mulk saja. Ia dikenal sebagai orang yang cinta ilmu dan tokoh pelopor pendidikan Islam model Madrasah yang kemudian ditiru oleh banyak orang.

Menurut as-Subki, Nizam al-Mulk mendirikan 9 Madrasah Nizamiyah, yaitu di Bagdad, Nisabur, Balkh, Herat, Isfahan, Basrah, Marwi, Amul Tabaristan, danMoshul. (As-Subki, Tabaqah asy-Syafi’iyah al-Kubra, cet. I, (Mesir: ‘Isa al-Babi al-Halabi wa Syuraka’uh), IV: 313-314).

Namun sangat disayangkan bahwa ia meninggal dibunuh oleh seorang dari golongan Batiniyah atau Hasyasyinatau Isma’iliyyah 10 Ramadhan 485 H setelah sekitar 30 tahun mengabdi kepada dua orang sultan dinasti Saljuk yaitu Alp Arselan dan Malik Syah. Sosok Nizam adalah juga negarawan yang menurut Prof. Philip K. Hitti sebagai salah seorang tokoh politik yang turut menghiasi sejarah perpolitikan umat Islam. Ia juga mendapat gelar Atabek karena kesungguhannya dalam mengabdi kepada negara. (K. Ali, A Study of Islamic History, (Delhi:Idarah-i Adabiyat-i Delli, 1980).

Wazir kagum atas pandangan-pandangan al-Ghazali  sehingga al-Ghazali  diminta untuk mengajar Fiqh asy-Syafi’iyah di perguruannya, Nizham al-Mulk, di Baghdad, yang lebih dikenal dengan perguruan atau Madrasah Nizhamiyah. Al-Ghazali  mengajar di Baghdad pada tahun 484 H/1091 M. Pada saat inilah al-Ghazali  yang pada waktu itu berusia 34 tahun memperoleh berbagai gelar dalam dunia Islam dan mencapai puncak kariernya yang ia capai dalam usia yang masih relatif sangat muda.

Empat tahun lamanya al-Ghazali  mengajar di Baghdad. Kemudian ia meninggalkan Baghdad menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji kedua kalinya pada tahun 488 H. setelah ia mewakilkan tugasnya kepada saudaranya, dan terus melanjutkan perjalanan ke Damaskus.

Di sini ia hidup sebagai seorang zahid yang mendalami suasana batin, meninggalkan kemewahan, dan menyucikan diri dari dosa selama kurang dari 2 tahun lamanya. Kemudian pada akhir tahun 490 H/1098 M. Dia pergi ke Hebron dan Bait al-Maqdis, Palestina, dan melanjutkan perjalanannya ke Mesir serta hendak ke Maroko dengan maksud untuk bertemu dengan salah seorang Amir dari pemerintah Murabithun.

Namun sebelum keinginannya tercapai al-Ghazali  mendengar kabar kematian Amir tersebut. Lantas ia membatalkan niatnya dan kembali ke Timur menuju tanah suci Mekkah dan Madinah. Selanjutnya ia kembali ke Nisabur dan diangkat oleh Fakhr al-Mulk (putra Nizham al-Mulk) Perdana Menteri dari Gubernur Khurasan, Sanjar yang merupakan salah seorang putra Malik Syah, sebagai Presiden dari perguruan di Nisabur pada tahun 1105.

Tidak lama di Nisabur, kemudian ia kembali ke Thus dan mendirikan madrasah yang mempelajari teologi, tasawuf, serta madrasah fiqhi yang khusus mempelajari ilmu hukum. Di sinilah al-Ghazali  menghabiskan sisa hidupnya setelah mengabdikan diri untuk pengetahuan berpuluh tahun lamanya dan sesudah memperoleh kebenaran yang sejati.[]

Referensi:

  1. Muhammad Khudri Beik, Muh}ad}}arah Tarikh al-Umam al-Islamiyyah, (Mesir.: Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, 1970), II: 44.[1])
  2. Ibn Khalikan, Wafayat al-A’yan wa Anba, Abna az-Zaman (Beirut: Dar Sadir, t.t.), II: 128-129.
  3. Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islami as-Siyasi wa ad-Dini wa as-S#aqafi wa al-Ijtima’i, cet. 1 (Kairo: Maktabah al-Nahdah al-Misriyah, 1967), IV: 31-31.
  4. Ahmad Kamaluddin Hilmi, As-Salajiqah fi at-Tarikh wa al-Hadarah, cet. 1 (Kuwait: Dar-al-Buh{us al-‘Ilmiyyah, 1975), hal. 44.
  5. Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, alih bahasa Joko S Kahhar dan Supriyanto Abdullah, cet. 1 (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hal. 114.
  6. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, Routledge History of World Philosophies: History of Islamic Philosophy Part I, cet. 1 (London dan New York: Rotledge, 1996), I: 260
  7. (Delhi: Low Price Publications, 1961), I: 584.
  8. Muhammad Lutfi Jum’ah, Tarikh Falasifah al-Islamiyyah fi al-Masyriq wa al-Maghrib (Beirut: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, t.t.), hal. 6.