23 January 2018

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Berlayar Melalui Samudera Hindia Hingga Laut Merah untuk Berhaji

16 Aug 2016 DETIK

Jakarta - Pada abad ke-16 permulaan musim haji di Nusantara, pada umumnya orang pribumi yang ingin pergi ke Mekkah menggunakan transportasi laut berupa kapal niaga. Bagaimana rute pelayaran mereka?

Awalnya mereka yang berangkat ke Hijaz belum melalui satu pelabuhan embarkasi tertentu. Pada abad ke-16 sampai 17 para pengunjung Haramain dari Nusantara memulai perjalannya dari suatu pelabuhan perdagangan menuju Pasai dan Malaka.

Namun, lantaran pada tahun 1511 Malaka ditaklukkan oleh Portugis, maka Pasai menjadi satu-satunya pintu gerbang menuju Mekkah. Hal itu yang kemudian menjadi sejarah di balik julukan Aceh kini yaitu Serambi Mekkah.

Namun seiring kemudian mundurnya perdagangan, Pasai kemudian tak lama menjadi pelabuhan pintu gerbang menuju Haramain. Memasuki abad ke-18 , mereka yang ingin ke Mekkah lebih memilih bertolak dari Batavia atau pelabuhan lainnya di Tanah Semenanjung.

Dalam catatan pemerintah Belanda "Resolutie van den Gouveumeur Generaal van Nederlandsche Indie" yang diterbitkan Oktober tahun 1825, 200 orang pribumi yang berasal dari Batavia dan residen lainnya menghadap polisi Belanda untuk meminta paspor jalan ibadah haji. Mereka melaporkan ingin berhaji bersama kapal Magbar milik Syaikh Umar Bugis.

Pemerintah Belanda pun mengizinkan dengan mengeluarkan resolusinya.

"Dengan disposisi ini untuk pengesahan kepada mereka yang telah menghadap polisi untuk memperoleh paspor ke Mekkah dengan kapal Magbar telah diizinkan berangkat ke sana," kutipan terjemahan dari bahasa Belanda dari Resolutie van den Gouveumeur Generaal van Nederlandsche Indie yang diterbitkan Oktober tahun 1825.

Bergeser ke abad 19, perjalanan haji dimulai dari Batavia, Padang, Singapura dan Penang. Sampai dengan tahun 1870, Pemerintah Hindia-Belanda belum menentukan pelabuhan tertentu sebagai pelabuhan embarkasi haji.

Melalui staatblaad (laporan negara) tahun 1872 No. 172 mengatur tentang pengangkutan pribumi keluar dari Hindia-Belanda ditetapkan bahwa pelabuhan embarkasi hanya dilakukan pada pelabuhan Batavia, Surabaya, Semarang.

Dari pelabuhan-pelabuhan ini jamaah haji Nusantara berangkat ke Jeddah. Ketika masih menggunakan kapal layar dan kapal niaga perjalanan ke Jeddah melewati pelabuhan tertentu di Samudra Hindia dan Laut Merah. Tidak terdapat jalur tertentu yang harus dilalui.

Penetapan pelabuhan transit sangat ditentukan oleh nahkoda kapal. Ia biasanya dapat menganalisa keadaan angin untuk navigasi. Selain itu, cara lainnya dalam menentukan pelabuhan transit adalah dengan melihat pasar bagi komoditas yang diangkut atau diperlukan.[] Sumber: detik.com