20 May 2018

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Ada Apa di Hutan Kota Langsa?

22 May 2016 PORTALSATU

LANGSA - "Kawasan wisata islami. Pengunjung diwajibkan berbusana islami. Pelanggar akan ditindak sesuai Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat." Demikian isi spanduk terpampang di mulut Hutan Kota Langsa.

Hutan Kota Langsa mengundang daya tarik wisatawan lokal sejak beberapa tahun terakhir. "Ramai warga termasuk dari luar Kota Langsa berwisata kemari sejak 2-3 tahun lalu. Setiap akhir pekan selalu ramai," kata Ari, seorang warga setempat, Minggu, 22 Mei 2016.

Menuju Hutan Kota Langsa bisa ditempuh dari Jalan Jenderal  A. Yani/jalan protokol kota Langsa masuk ke Jalan Perumnas PB Seuleumak. Pengunjung tidak dikutip tiket masuk. Cukup membayar biaya parkir kendaraan. "Rp5.000 permobil dan Rp2.000 persepedamotor. Bayar saat pulang," ujar seorang petugas parkir.

Melangkah masuk ke dalam Hutan Kota itu langsung berhadapan dengan sederet karpet. "Sewa karpet Rp10.000". Kanan kiri penyewa karpet terlihat sejumlah pedagang, salah satunya "singkong gaul".  "Troh bak bohbi/singkong kagaul jameun nyoe, mugken ikot tren anak gaul," kata Joel sekenanya.

Joel bersama keluarganya dari Lhokseumawe mengaku baru pertama kali berkunjung ke Hutan Kota Langsa. Sama seperti Joel, sebagian pengunjung lainnya datang bersama keluarganya. Sejumlah rombongan keluarga tampak bersenda ria di atas karpet di bawah pepohonan besar nan rindang. Beragam jenis pohon/kayu tumbuh subur di Hutan Kota itu. Di antaranya, banyak kayu damar di sebelah barat, dan kelapa sawit di timur dan selatannya. Akan tetapi, kelapa sawit itu tampak tidak produktif lagi.

Pengunjung lainnya adalah para kawula muda, remaja yang datang berpasang-pasangan. Sebagian remaja wanita berpakaian islami, ada juga yang mengenakan baju dan celana ketat dan tanpa hijab.

Dalam Hutan Kota itu ada kolam yang menyerupai sungai. Airnya keruh. Setidaknya ada dua perahu di kolam itu tengah mengangkut sejumlah bocah. Ada pula dua jembatan gantung yang terbentang di atas kolam. Salah satunya tutue ayon (jembatan goyang). Sejumlah anak usia SD dan SMP tampak riang gembira menikmati goyangan di atas jembatan tersebut.

Sementara jembatan gantung menjadi tempat selfie para pengunjung, anak-anak hingga orang dewasa. Di muka jembatan tertulis, "Jembatan beban maksimal 40 orang. Dilarang berlama-lama di jembatan". Jembatan gantung itu pernah ambruk ke kolam saat pengunjung "selfie massal".

"Bukan hanya orang dewasa yang jatuh ke kolam, ada juga satu bayi yang jadi korban," ujar Ari. "Sudah ditulis di sana, kapasitas jembatan sekitar 40 orang, tapi saat kejadian itu yang berada di atas jembatan lebih 100 orang," ujar Ari yang sore tadi  tengah mengerjakan proyek jalur tracking di bibir sebelah timur kolam. 

Di antara pepohonan sebelah timur kolam, para pedagang minuman aneka jenis terlihat sibuk melayani pengunjung yang ingin melepas dahaga setelah berkeliling dalam hutan. 

Ada pula kebun binatang. Tampak beberapa rusa jantan dan betina melahap makanan yang disodorkan oleh pengunjung. Begitu pula dua burung panjang paruh. Di sana ada juga kancil, ular dan landak dalam sangkar terpisah. Sedangkan empat buaya ditempatkan di kolam khusus. Salah satu buaya beberapa kali menunjukkan aksi "menguap" hingga belasan menit, sehingga menyedot perhatian pengunjung. Sementara tiga buaya lainnya memilih diam, dingin dan kaku seperti batu.

Seorang pengunjung dari luar Langsa mengaku terkesan dengan bermacam corak pemandangan dalam hutan itu. "Tapi sebaiknya Pemko Langsa melalui dinas terkait perlu melengkapi beberapa jenis tumbuhan, terutama pohon atau jenis tumbuhan yang sudah langka di telinga masyarakat. Saya pernah dengar kabar bahwa orang tua kita zaman dulu itu memberi nama beberapa daerah--yang kini menjadi nama kecamatan--dengan nama pohon. Seperti Syamtalira, Matangkuli, dan lainnya," ujar pengunjung itu.

Intinya, kata dia, Hutan Kota Langsa jangan sebatas dijadikan sebagai kawasan wisata islami--meski cita-cita itu belum terwujud sepenuhnya. Akan tetapi, Hutan Kota Langsa mestinya memberikan nilai tambah dalam bentuk "hutan yang mendidik", sehingga para pengunjung berkesempatan mendapatkan pelajaran/pendidikan tentang nama-nama pohon, apa pentingnya tumbuh-tumbuhan itu, dan pengetahuan lainnya.

"Jadi, ketika saya suatu saat kembali berkunjung kemari, lalu saat pulang ada kawan yang bertanya: 'Ada apa di Hutan Kota Langsa?' Saya akan menjawab: 'Bukan hanya buaya menguap, tapi ada pendidikan yang bisa saya bawa pulang."[](idg).

Berita Terkait