19 November 2017

Home Gaya Travel Otomotif Health Entertainment

Aceh Tracker Selesaikan Ekspedisi Studi Biodiversity ke Gunung Lembu Gayo Lues

29 Jun 2016 PORTALSATU

BLANGKEJEREN - Komunitas pendaki Aceh Tracker bersama dua peneliti Eropa menjelajah gunung-hutan dalam rangka penelitian biodiversity di kawasan Gunung Lembu di Kabupaten Gayo Lues. Gunung yang tingginya mencapai 3.050 mdpl ini diketahui tidak termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Ekspedisi ini mulai berlangsung sejak 16 Juni dan ditargetkan selesai hari ini, Rabu, 29 Juni 2016.

Humas Aceh Tracker, Wardhana Prasetya mengatakan, pendakian ini disponsori oleh Oliver James Broadhead, peneliti Inggris dari Bristol University dan Iris Berger, peneliti asal Austria dari Edinburg University Skotlandia. Kawasan ini dinilai masih tergolong baru sebagai situs penelitian.

"Gunung Lembu memiliki tugu atau pilar di puncaknya yang dibuat oleh Belanda dengan nomor P.123 di ketinggian 3.043 mdpl yang berhasil dicapai pertama kalinya oleh Aceh Tracker pada September 2014 lalu," kata Wardhana, melalui siaran pers, Rabu, 29 Juni 2016.

Melalui rute yang sama kata Wardhana, Aceh Tracker kembali mencapai puncak dengan strategi Summits Attack (menggapai puncak target tanpa ransel perbekalan dan tidak nge-camp di puncak). Taktik ini dilakukan karena sekitar 3 km jalur Summit Attack menuju puncak pilar belum memungkinkan untuk dilalui dengan perbekalan lengkap.

"Karena jalur yang sempit, terjal dan dipenuhi puluhan terowongan akar pohon berlumut seukuran badan dan tidak terdapat area camp hingga 2950mdpl. Hingga sekarang baru 3 tim yg melintas di jalur Summits Attack puncak pilar Gunung Lembu ini," ujarnya.

Masing-masing tim tersebut adalah Mapala Leuser Unsyiah pada Oktober 2013 namun gagal muncak. Dua tim lainnya yaitu tim Aceh Tracker pada September 2014 dan Juni 2016. "Selain tim ekspedisi, Aceh Tracker mensiagakan tim D-Track (Divisi Tracking & Rescue Aceh Tracker) yang dikoordinir Rija Rullah, yang dipusatkan di Banda Aceh.

Bagi Iris Berger, peneliti wanita asal Austria & Oliver (Inggris) terlibat dalam ekspedisi ini merupakan pengalaman ekspektatif dalam ranah riset biodiversity. Ekspedisi yang dipimpin Said Murthaza dengan Co-Leader, Nailul Autar mngambil titik awal sama dengan yang dilakukan pada 2014 lalu yakni melalui Desa Uring, Kecamatan Pining, Gayo Lues.

Bagi Said, ini merupakan pengalaman ketiga kalinya mnjelajahi kawasan Pegunungan Lembu setelah pada 2013 lalu ikut ekspedisi bersama Mapala Leuser Unsyiah. Pilar P.123 terletak di koordinat Bujur 097°26'05.6" & Lintang 04°13'18.6". Sebagai spot baru dalam prospek ekowisata, menggapai puncak Gungung Lembu harus lebih dulu melintas beberapa puncak, salah satunya Puncak Lojang (2559mdpl).

"Harapan warga Desa Uring ke depan, kawasan ini bisa mnjadi destinasi baru ekowisata Gayo Lues, Aceh yang melibatkan pemuda setempat. Hal (proposal) ini sudah pernah diajukan oleh Aceh Tracker kepada Pemkab Gayo Lues melalui Disbudpar Gayo Lues pada 2015 lalu. Di mana proposal tesebut berlampirkan Laporan Ekspedisi Jelajah 100 Puncak Aceh (JAPAKEH) VI - Kawasan Peg.Lembu 2014 namun belum ada tanggapan atau belum menjadi prioritas."

Yusnita Putri, salah satu pendiri Aceh Tracker mengatakan, sejak 2014 lalu dasar utama Aceh Tracker memilih kawasan (Pegunungan Lembu) ini sebagai area penjelajahannya, karena diyakini suatu saat kawasan pegunungan ini, khususnya Desa Uring atau Kecamatan Pining akan menjadi portal zona ekowisata di hutan tropis Aceh - Sumatera.

"Sekaligus sebagai stimulan mendatangkan investor guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gayo Lues di sektor pariwisata khususnya pendakian gunung selain yang telah berkembang seperti situs pendakian Gunung Leuser," kata Yusnita.

Wardhana kembali menambahkan, berdasarkan catatan Aceh Tracker, jarak tempuh menuju puncak pilar Gunung Lembu dari Desa Uring mencapai 22km. Dan dipilihnya Desa Uring sebagai entry-point karena desa ini merupakan titik pemukiman terdekat dalam radius jarak dari puncak gunung tersebut.

"Hingga kini Aceh Tracker belum bisa merekomendasikan jalur selatan Gunung Lembu ini sebagai jalur konvensional untuk ekowisata. Kecuali terlebih dulu digelar program khusus untuk itu karena beberapa spot jalur masih membutuhkan keahlian khusus, serta melibatkan warga Desa Uring sebagai penerima manfaat."

Sulitnya medan (topografis), fluktuasi cuaca, suhu dan tekanan udara adalah hal-hal yang menjadi dasar trip ekspedisi ini ditangani langsung oleh A-Track Explorer (Unit Khusus Jelajah Aceh Tracker) dengan prasyarat kualifikasi pengalaman di atas 1000 jam eksplorasi (penjelajahan) menurut standar Aceh Tracker. Plus menguasai bahasa asing.

Trip ini dalam rencana awal menargetkan hingga puncak Gunung Kurik (3.085) yang akan coba diakses (melalui lereng barat daya Gn. Gemiring) dengan jarak +/- 3mil dari puncak pilar Gn. Lembu.

Namun setelah Said dan Nailul berusaha membuat rute baru dengan merintis jalur mencapai puncak Gemiring dari Camp Summits Attack untuk melintasinya kemudian menuju Puncak Gn. Lembu lalu ke Puncak Kurik terhenti di ketinggian 2600mdpl lereng barat daya Gemiring, setelah 6 jam bertarung dalam cuaca hujan-badai dan suhu 9-10 derajat membuka jalur dengan rapatnya vegetasi hutan perdu dan lumut.

Seskali Tim harus berlindung di ruang kecil di bawah pohon yg sebnarnya tempat berteduh satwa liar seperti kambing gunung. Sementara itu Oliver dan Iris melakukan observasi di sekitar Camp Summits Attack (2.250mdpl). Setelah briefing akhirnya diputuskan untuk hanya mencapai puncak pilar Lembu dari Rute 1314 (2013-2014).

"Saat ini tim sedang dalam perjalanan kembali dari puncak setelah mendokumentasikan objek sekitar puncak. Info ini langsung dari ketua tim melalui layanan salah satu operator seluler dari puncak pilar Gn. Lembu. Memang di bebrapa titik lintasan terdapat spot area signal seluler bahkan layanan 3G. Kegiatan ini dimonitor terus oleh Kapolres Gayo Lues melalui Kasat Intelkam Polres Gayo Lues yang memperoleh tembusan info update dari tim di lapangan dan unsur pimpinan Aceh Tracker," katanya.[](ihn)