INI adalah tugu pendaratan armada Jepang pertama kali di Aceh. Lokasinya di Gampong Durung, Ujong Batee, Aceh Besar. Tugu itu berada di sebelah kanan badan jalan lintas Banda Aceh-Krueng Raya. Atau berada di sebelah kiri jika kita bergerak dari arah sebaliknya. 

Tugu batu yang kini tertutup rerimbunan pohon tersebut berada sedikit lebih tinggi dari badan jalan. Ada beberapa wahana permainan anak, seperti prosotan, ayunan besi dan jungkat-jungkit di areal tugu. Besi-besi wahana itu ada yang sudah mengelupas, ada juga yang sudah 'tiarap' di permukaan tanah.

Tugu yang sedikit menyerupai bentuk Monas dalam ukuran mini itu, sejatinya tak terlihat dari arah jalan--jika mata tak awas alias cekatan. Monumen pengingat bahwa Aceh pernah didatangi tentara Jepang pada 12 Maret 1942 itu, seakan nyaman 'menyepi' di tikungan turunan menuju kawasan wisata Ujong Batee.

Sejarah mencatat, Jepang masuk ke Aceh karena dijemput para tokoh daerah untuk mengusir Belanda. Perjanjian melawan sekutu berlangsung di Penang.

Pada saat itu, Jepang yang baru membuka diri terlibat dalam perang Asia Timur Raya dengan membombardir Pearl Harbour, Hawai, yang menjadi pangkalan militer Amerika Serikat. Jepang kemudian menasbihkan diri sebagai saudara tua dari timur yang datang untuk membebaskan Asia dari cengkeraman barat.

Namun, di kemudian hari, kedatangan Jepang ke Aceh malah tidak jauh berbeda dengan masuknya Belanda ke Nusantara. Para tentara dari "Matahari Terbit" ini bahkan berlaku kejam kepada warga dengan menerapkan sistem kerja paksa: romusha.

Setidaknya 3,5 tahun Jepang mencengkram Aceh dan Indonesia. Selama itu pula banyak rakyat yang menderita. Di Aceh kemudian dikenal istilah, "ta let bui, peu tamong asee." Ungkapan ini bisa diartikan bahwa keberadaan Jepang yang sebelumnya diharapkan mengusir Belanda malah berbuah petaka.

Jepang akhirnya angkat kaki dari Aceh, setelah kalah dalam Perang Dunia II. Hal ini terjadi usai Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di dua kota besar mereka: Hiroshima dan Nagasaki.[]