GELIAT peradaban Islam di Asia pada abad ke-13 dapat diibaratkan dengan burung Feniks (Phoenix) dari mitologi Yunani Kuno. Paruh pertama kurun tersebut, pusat-pusat keunggulan Islam, seperti Bukhara, Samarkand, atau Baghdad, luluh lantak sama sekali akibat ekspan si para penakluk asal Mongol, Genghis Khan dan keturunannya.

Akan tetapi, dari abu reruntuhan itulah peradaban Islam bangkit kembali dan bahkan menjadi lebih besar dari sebelumnya. Momentum itu terjadi setelah raja-raja Mongol mulai menerima dakwah agama ini. Di masa jayanya, Imperium Mongol mengen dalikan sebagian besar Eurasia. Batas-batasnya mencapai Eropa Timur hingga Semenanjung Korea, serta Siberia hingga Indocina.

Sejarah tidak pernah menyaksikan kemaharajaan seperti itu sebelumnya. Kedigdayaan Mongol ditunjang banyak faktor, utamanya militer, teknologi bubuk mesiu, dan sistem pemerintahan yang efisien. Barulah sejak 1920, kekaisaran ini runtuh terkena imbas kolonialisme Eropa.

Beatrice Forbes Manz dalam artikelnya untuk The New Cambridge History of Islam (Jilid Ketiga, 2011), menjelaskan bagaimana Imperium Mongol mengubah wajah Islam untuk selamanya. Kisahnya bermula dari Genghis Khan (1162-1227). Sejak 1205, pemimpin yang lahir dengan nama Temujin ini dapat mempersatukan suku-suku nomaden yang menghuni dataran tinggi Mongol. Menjelang tahun 1216, ekspansi balatentaranya mulai bergerak ke arah barat, sekitar Jalur Sutra yang menghubungkan per niagaan Cina dengan Eropa.

Pada masa itu, seluruh Iran dan sebagian besar Asia Tengah dikuasai beberapa wangsa Muslim. Sejak 1194, Dinasti Khwarazmi menguasai wilayah tersebut setelah berhasil mengalahkan Dinasti Seljuk.

Sebelum 1200, hubungan antara para pemimpin (shah) Khwarazmi dan penguasa Mongol dapat dikatakan cukup baik. Keada an damai ini berakhir setelah Khwarazmi memiliki shah baru, Muhammad II.

Pada 1218, Genghis Khan mengirim sejumlah utusan ke suatu kota di wilayah Khwarazmi untuk menjalin hubungan dagang. Namun, gubernur setempat, sepertinya atas perintah Shah Muhammad II, mencurigai mereka sebagai mata-mata.

Para delegasi tersebut lantas ditangkap dan dihukum mati. Meskipun murka, raja Mongol itu sempat mengirim utusan lainnya untuk mendesak Shah Muhammad II agar menyerahkan si gubernur kepadanya sehingga dapat dieksekusi. Duta ini juga dibunuh pemimpin Khwarazmi tersebut.

Tidak ada pilihan bagi Genghis Khan selain kekerasan. Dia mengepung wilayah Khwarazmi secara berangsur-angsur. Sejak 1219, sekitar 150 ribu balatentara Mongol mencaplok sejumlah kota penting, seperti Bukhara, Samarkand, dan Urgrench yang tidak lain adalah ibu kota Khwarazmi.

Di daerah-daerah taklukannya, mereka berlaku sangat kejam. Penduduk sipil yang tak bersenjata menjadi sasaran. Jutaan orang tewas. Shah Muhammad II meninggal dunia saat sedang kabur ke Khurasan (Iran)pada 1220.

Jenderal militer Mongol kemudian mengalahkan anak shah tersebut, Jalaluddin Mingburnu, dalam pertempuran di dekat Sungai Indus pada 1221. Inilah awal kejatuhan Persia Muslim ke tangan Mongol. Selang beberapa dekade berikutnya, wilayahwilayah lain, utamanya Irak di bawah Dinasti Abbasiyah, menjadi sasaran.

Manz mengungkapkan satu kunci keberhasilan Mongol dalam merebut satu per satu wilayah musuh: meritokrasi. Berbeda dengan raja-raja di Asia pada zamannya, Genghis Khan tidak begitu menggubris faktor keturunan untuk menentukan siapa saja yang mengisi posisi penting di militer.

Bahkan, beberapa jenderal Mongol adalah mantan lawannya yang kemudian berhasil dikondisikan untuk menjadi loyalis. Tentu saja, kebengisan pasukan Mongol juga ikut mendukung gelombang ekspansi Genghis Khan dan keturunannya ke arah barat.

Pada akhir 1222, Genghis Khan memindahkan pusat kekuasaan ke Transoxiana, daerah subur antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya (kini sekitar Uzbekistan). Beberapa tahun kemudian, pada 18 Agustus 1227, sang penakluk itu menghembuskan nafas terakhir.

Tidak ada informasi yang memadai tentang bagaimana dia mati atau di mana lokasi makamnya. Sebab, seluruh bawahannya menjadikan hal itu rahasia dengan taruhan nyawa mereka. Bagaimanapun, para sejarawan menduga makam Genghis Khan terletak di suatu tempat di Mongolia.

Sampai saat itu, Kekaisaran Mongol telah mencakup Mongolia, Cina utara, Siberia selatan, seluruh Asia Tengah, dan Hindustan. Wilayah seluas ini lalu terbagi menjadi empat khanate atau horde (harfiah:`gerombolan'), sesuai dengan jumlah anak laki-laki yang diperoleh mendiang dari istri resminya, Borte. Mereka adalah Jochi, Chaghadai, Ogedei, dan Tolui. Chaghadai dan Tolui masing-masing mendapat Asia Tengah dan Mongolia.

Sementara itu, yang terunggul di antara anak-anak Genghis Khan, Ogedei, melanjutkan ekspansi imperium ini secara signifikan. Tidak seperti ayahnya, Ogedei memakai gelar qaghan yang khas Turki.

Hal ini menunjukkan besarnya pengaruh non-Mongol di lingkaran elite kekaisaran tersebut. Jochi wafat sebelum Genghis Khan tiada. Karena itu, hak-haknya kemudian diambil anak-anaknya yang mengua sai wilayah utara (sekitar Siberia selatan). Kelak, seorang anak Jochi mengawali Islamisasi Mongol.

Islamisasi Meskipun terkenal kejam--lebih dari 40 juta orang tewas akibat ekspansi Mongol-kekaisaran ini tidak jauh dari nilai-nilai spiritualisme. Manz (2011) menjelaskan, keyakinan terhadap eksistensi tuhan dan karunianya atas penguasa merupakan ideologi sentral Imperium Mongol.

Selain itu, para kaisar Mongol juga toleran terhadap banyak umat agama yang menjadi rakyatnya. Mereka antara lain orang Kristen Nestorian, Buddha, dan Islam. Genghis Khan menganut Tengrisme, suatu kepercayaan yang sampai sekarang masih dipeluk segelintir penduduk Asia Tengah. Seorang Tengris meyakini ke hidupan berasal dari dewa langit dan dirawat dewi bumi.

Dua tahun sejak kematian Genghis Khan, keempat horde telah menjadi wilayah mandiri. Di antara mereka, horde milik anak sulung Genghis Khan, Jochi, merupakan yang paling dipengaruhi kebudayan Turki Islam.

Nama Turki di sini tidak identik dengan negara yang sekarang beribu kota di Ankara, melainkan kelompok bangsa penghuni stepa Asia Tengah yang akrab dengan ajaran Samawi. Untuk diketahui, Jochi wafat enam bulan sebelum Genghis Khan mangkat. Oleh karena itu, horde yang menjadi haknya kemudian dipimpin anak keduanya, Batu Khan.

Nama Batu Khan tercatat sebagai penak luk Eropa. Pada 1240-an, balatentara cucu Genghis Khan ini sudah mencapai perbatasan Imperium Romawi Barat. Paus Gregory IX sempat memaklumkan Perang Salib atas pasukan Mongol itu tetapi tidak jadi lantaran situasi politik Eropa yang tidak memungkinkan.

Belakangan, penyebab Roma selamat dari amuk Mongol justru kebetulan belaka. Pada 1241, Batu Khan harus menghentikan ekspansi yang sudah direncanakannya atas Austria, Italia, dan Jerman. Dia kembali ke Mongolia begitu mendengar kabar kematian pamannya, Qaghan Ogedei.

Il'nur Mirgaleev dalam artikelnya, The Is lamization of the Golden Horde: New Data (2016), menjelaskan, horde yang dipunggawai Batu Khan kerap disebut sebagai negeri Islam (Dar al-Islam). Alasannya, horde inilah, di antara keempat lainnya, yang cukup terbuka terhadap Islam. Mirgaleev menandaskan dua penyebabnya, yakni peran kaum sufi dan hubungan diplomatik dengan Dinasti Abbasiyah, penguasa Irak saat itu.

Horde Batu Khan

Dilihat dari geografisnya, horde yang dikuasai Batu Khan membentang dari Sungai Volga, Laut Hitam, Pengunungan Kaukasus, hingga sebagian Asia Tengah. Untuk memudahkan adminis trasi, Batu Khan memilah wilayahnya menjadi tiga bagian (dari barat), yakni Horde Putih, Horde Biru, dan Horde Abu-abu.

Dua horde yang pertama disebutkan itu diurus Batu Khan. Adapun Horde Abuabu diperuntukkan bagi Orda Khan dan saudara-saudaranya. Pada 1255, Batu Khan wafat. Dua tahun kemudian, salah seorang saudaranya, Berka Khan, menjadi pelanjutnya. Dia berhasil menyatukan Horde Putih dan Horde Biru sehingga dinamakannya Horde Emas.

Berke Khan merupakan kaisar Mongol pertama yang memeluk Islam. Ceritanya bermula ketika dia berjumpa dengan Syekh Syaifuddin Bakharzi. Salik ini merupakan murid Najmuddin Kubra, pendiri tarekat Kubrawiyah.

Sang syekh sedang mengiringi suatu kafilah dari Bukhara ketika di Sarayjuk, utara Laut Kaspia. Iring-iringan ini berpapasan dengan Berke Khan dan para pengawalnya yang sedang dalam perjalanan menuju ibu kota.

Saat dicegat, Syekh Bakharzi tidak gentar menjawab interogasi komandan Mongol tersebut. Sampai akhirnya diberi kesempatan bicara, sufi tersebut memaparkan seluk beluk Islam.

Tak disangka, uraiannya menarik perhatian Berke Khan hingga hidayah Allah menyinari hatinya. Cucu Genghis Khan itu lantas mengucapkan dua kalimat syahadat. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1250.

Dengan wafatnya Batu Khan serta penya tuan Horde Emas, kekuasaan Berke Khan kian stabil. Dia sendiri menjadi pemim pin Muslim yang saleh. Dalam masa ke pemimpinannya, Islam menjadi agama resmi.

Sejak saat itu, ajaran Nabi Muhammad SAW terus berkembang pesat di Imperium Mongol, terutama berkat peran para salik pengembara. Kalangan istana pun tidak luput dari dakwah. Misalnya, salah seorang penerus Berke Khan, Uzbeg Khan, menjadi mualaf lantaran bimbingan sufi asal Bukhara pada 1313.

Sementara itu, geliat ekspansi mulai tampak dari rivalnya, yakni horde yang dipimpin Mongke Khan. Sebenarnya, Ber ke Khan termasuk mengakui Mongke Khan sebagai penerus kebesaran Genghis Khan.

Namun, situasi mulai berubah sejak Mongke Khan menunjuk saudaranya, Hulagu Khan, sebagai panglima perang. Ekspansi Mongol mengganggu wilayah barat yang dikuasai Muslim. Menurut silsilah, Hulagu Khan merupakan keponakan Berke Khan.[]Sumber:republika