JAKARTA — Islam telah bersemi di bumi Mozambik sejak abad ke-10 M/4 H. Jejak hadirnya Islam di Afrika bagian tenggara itu dapat ditelusuri melalui rekaman sejarah. Berdasarkan catatan sejarah, kawasan yang berbatasan dengan Lautan India di sebelah barat itu sudah sering dikunjungi para musafir dan pedagang Muslim sejak abad pertengahan.

Perdagangan budak Arab mulai masuk ke Mozambik pada masa itu, ketika Muslim mendirikan emirat-emirat di pantai Afrika Timur. Sepanjang periode itu, para saudagar budak Muslim memperluas bisnis perdagangan manusia ke arah selatan di sepanjang wilayah pantai. Perluasan itu terjadi selama periode Dinasti Omani al-Bu Said.

Sejak Kesultanan Kilwa didirikan pada abad ke-10 oleh Ali bin al-Hassan Shirazi, Islam menjadi agama mayoritas, termasuk di wilayah yang kini bernama Mozambik. Kota pelabuhan bernama Sofala begitu masyhur karena menjadi pusat perdagangan budak, gading, emas, dan besi yang dilakukan dengan negara-negara Islam Timur Tengah dan India.

Sofala dan sebagian besar wilayah pantai Mozambik kala itu adalah bagian dari Kesultanan Kilwa sejak kedatangan Arab, diyakini terjadi pada abad ke-12 M. Memasuki pertengahan abad ke-15, kesultanan-kesultanan berbasis agama dan komersial yang bersifat permanen banyak berdiri di sepanjang wilayah pantai. Sebagian bahkan mencapai Zambezi. Kala itu, hampir seluruh penduduk Kota Sofala adalah Muslim, bahkan sebelum kedatangan Portugis pada 1505.

Dalam laman africa.com disebutkan, pedagang India, termasuk Muslim dari Pantai Barat India (Malabar), telah berdagang dengan para pedagang di Pantai Timur Afrika jauh sebelum kedatangan Portugis. Saat Vasco da Gama sampai di Mozambik pada 1498, ia menemukan negara tersebut terbagi menjadi dua bagian.

Keduanya adalah suku kulit hitam Afrika yang mendiami wilayah pendalaman dan pedagang Arab serta Swahili yang menghuni wilayah pesisir tengah dan utara. Dua kelompok terakhir adalah kelompok kaya yang telah memeluk Islam.[]Sumber:republika